DESA WATESTANJUNG

 

Nama Instansi : Desa Watestanjung

Alamat : Jl Raya Watestanjung kode pos 61176

Telp/Fax : 081231063009

Email : watestanjunggresik@gmail.com

Website : --

Produk Unggulan :-

Kepala Desa Watestanjung

Nama :  A.YANI

NAMA DAN JABATAN PERANGKAT DESA

NO

NAMA

JABATAN

1

Ahmad Yani

Kades

2

Hermanu Abas

Sekdes

3

Khusnul Khotimah

Kr. Pemerintahan

4

Emi Sulaimah

Kr. Keuangan

5

Mujiadi

Kr. Umum

6

Hermanu Abas

Kr. Pemerintahan

7

Miftahul Jannah

Ks. Pelayanan

8

Moh. Khoiri

Ks. Perencanaan

9

Marjuki

Ks. Kesra

10

Kasbudi

Kasun Wates

11

Riyadi

Kasun Ngampon

12

Ali Bawazim

Kasun Kauman

13

Harianto

Kasun Tanjung

14

Suwaji

Kasun Sidomansek

Bagan Struktur Organisasi Desa klik


VISI DAN MISI

1.   Visi dan Misi

Tantangan birokrasi Pemerintah Desa di masa depan meliputi berbagai aspek baik yang bersifat alamiah maupun Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan & Keamanan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta Agama. Sering dengan penerapan Otonomi Daerah yang luas dan bertanggung jawab, maka diperlukan suatu Pemerintah Desa yang berkualitas dan profesional dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, sehingga dapat benar-benar mewujudkan Pemerintah yang Good Goverment sesuai tuntutan masyarakat. Guna memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat, maka Pemerintah Desa harus memiliki visi dan misi ke depan

1.1.   Visi

Visi adalah gambaran kondisi masa depan yang lebih baik (ideal), dibandingkan dengan kondisi yang ada saat ini. Setiap orginasi selalu mempunyai harapan jauh kedepan, kemana dan bagaimana organisasi itu akan dibawa serta bekerja, agar tetap eksis dan konsisten. Penyusunan Visi Desa Watestanjung dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan pemerintah desa, BPD, LPMD, tokoh masyarakat dengan mempertimbangkan potensi dan nilai-nilai budaya yang ada dan tumbuh di masyarakat. Untuk itulah Pemerintah Desa Watestanjung dalam mencapai cita-citanya mempunyai visi "Terbangunnya tata kelola pemerintahan desa yang terbaik guna mewujudkan Desa Watestanjung yang Sejahtera dan lebih baik"

1.2.   Misi

Selain merumuskan Visi, maka desa harus merumuskan misi desa. Misi adalah alat untuk mencapai visi. Perumusan misi ini juga dengana melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan pemerintahan desa, BPD, LKMD, dan tokoh masyarakat. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka Desa Watestanjung telah memutuskan misi sebagai berikut :

1.  Menyelenggarakan pemirintah yang baik, untuk pelayanan masyarakat yang tepat, cepat, dan akurat

2.  Melaksanakan pembangunan infrastruktur desa, infrastruktur pertanian, sarana pendidikan dan sarana perekonomian desa, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat

3.  Melaksanakan pembinaan masyarakat untuk meningkatkan ketakwaan kepada tuhan yang maha esa, meningkatkan mutu pendidikan formal dan non formal serta pengetahuan masyarakat.

4.  Melaksanakan pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan usaha kecil dan menengah, pertanian dan peternakan serta menanggulangi kemiskinan


GEOGRAFIS DAN SEJARAH

1.  Geografis

Secara geografis Desa Watestanjung terletak pada posisi 7021'-7031' Lintang Selatan dan 110010'-111040' Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 156 m di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS Kabupaten Gresik tahun 2014, selama tahun 2014 curah hujan di Desa Watestanjung. Rata-rata mencapai 2.200 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 405,04 mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama kurun waktu 2012-2014. Secara administratif, Desa Watestanjung terletak di wilayah Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kedamean, di sebalah barat berbatasan dengan Desa Pedagangan, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Lebansuko, sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Pasinan Lemah Putih.

Jarak tempuh Desa Watestanjung ke ibu kota kecamatan adalah 4 km, yang dapat di tempuh dengan waktu sekitar 10 menit. Sedangkan jarak tempuh ke ibu kota kabupaten adalah 21 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1,30 jam

Pembagaian lahan di Desa WAtestanjung sebagian besar adalah lahan pertanian tanaman pangan Padi di musim penghujan sedangkan Jagung, Polowijo serta bengkuang di Musim Kemarau. PAda lahan tegalan banyak digunakan untuk tanaman perkebunan cabe, kacang serta sayur mayur yang dikirim ke Sidoarjo maupun Surabaya, adapun lahan lainnya tercatat sebagaimana pada tabel berikut

Lahan persawahan 164 Ha

Lahan Pekarangan 67,887 Ha

Lahan Tegalan 121,130 Ha

Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa tahun 2015, jumlah penduduk Desa Watestanjung adalah terdiri dari 1463 KK, dengan jumlah total 4883 jiwa, dengan rincian 2550 laki-laki dan 2333 perempuan.

2.  Sejarah Desa

Desa Watestanjung terletak di wilayah KEcamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik Jawa Timur terbagi menjadi 5 (Lima) pedukan, yakni Dusun Wates, Ngampon, Kauman, Sidomangsek, dan Tanjung, yang masing-masing mempunyai sejarah sendiri-sendiri

  1. Pedukuhan Wates/Dusun Wates dan di Dusun Kauman Sahibul Hidayat pada abad ke 13, ada seorang ulama besar yang masih kerabat dengan Kanjeng Sunan Giri, Waliullah yang bermukim di Padepokan Giridenta, Gresik. Beliau bernama Kyai Khayyin (Chayyun). Waktu itu bersama istri beliau singgah dan menetap di wilayah ini, yang akhirnya wilayah ini disebut dusun wates Khayyin mulai dari sinilah Mbah Khayyin mulai menyebarkan Agama Islam dan saat itu daerah sekitar masih menganut Animisme dan sebagian yang beragama Hindhu Budha. Penyebaran ISlam yang disebarkan oleh MBah Khayyin masih terbatas di Dusun Wates Khayyin dan perdukuhan wates, kata Wates timbul dari kata Batas yang dalam bahasa jawanya disebut wates. Dengan Perjuangan yang gigih Mbah Khayyin dapat mengislamkan warga sekitar. Setelah Mbah Khayyin wafat, selanjutnya wilayah wates dipecah menjadi 2, yaitu Wates dipimpin oleh Mbah Bulu Mantra dan Kauman dipimpin Mbah Muhammad Idris. PAnggilan akrabnya Mbah Mundris. Akhirnya pada tahun 1998, Dusun Wates Khayyin disebut Dusun Wates sedang Pedukuhan Wates disebut Dusun Pedukuhan atau lebih dikenal dengan Kauman, bukti Mbah Khayyin sampai sekarang masih sering dikunjungi untuk tirakat.

  1. Dusun Ngampon Menurut cerita dari mulut ke mulut, Dusun Ngampon mempunyai dua orang tokoh sebagai cikal bakal. Kurang lebih th 1080 M, di wilayah ini entah dari mana asalnya hidup 2 keluarga Mbah Suprapto beserta istrinya Nyai Sariyem yang tinggal di sebelah selatan dusun, sedang Mbah Sumo dengan istrinya menetap di utara dusun. Bukti peninggalan adalah sebuah sumur tua yang berada di sebelah selatan, batu bata yang berukuran besar bahan dari sumur tersebut akhirnya disebut sumut gede, demikian juga sumber airnya sangat melimpah (Sumur Gede = Sumur besar/jiwa) sampai sekarang masih dimanfaatkan oleh warga sekitar, sedangkan di sebelah utara juga terdapat sumur semacam hanya sayang batu batanya banyak yang hilang diambil orang, kedua tokoh tersebut mempunyai karakter yang berbeda, tidak mau saling mengalah akhirnya dengan semakin banyakna penduduk terbentuk dua kelompok masyarakat, kelompok Mbah Suprapto menamakan diri sebagai masyarakat/Kampung Njero (dalam) sedang Mbah Sumo masyarakat/Kampung Njobo (luar). Kesemua kelompok masih menganut faham Animisme meskipun mereka sudah mengenal Agama Islam. Gaya hidup antara Kampung Njero sangat bertolak belakang dengan Kampung Njobo, warga Kampung Njero sangat bersahaja, hidup dami, dan tidak suka merantau/keluar kampung, sedang Kampung Njobo selalu ingin bersaing baik dalam mencari harta maupun kesenangan lainnya. Sampai 2 anak yang masih belia/ usia 12 tahun. Sudah harus diperintahkan untuk bekerja keras, mencari nafkah demi pemuasan diri keluarganya. Hal ini sangat terlihat dalam tradisi mencari jodoh warga Kampung Njobo tidak mau menjodohkan putra/putrinya dengan warga Kampung Njero. Tradisi ini berjalan sampai dengan tahun 1959. Suatu ketika terjadi perselisihan antara kedua tokoh tersebut memuncak dan perkelahian hebat terjadi, kedua belah pihak sangat sakti, sehingga keduanya akhirnya saling mengampuni dan selanjutnya hidup bersama, bersatu antara KAmpung Njobo dan Kampung Njero. Dengan peristiwa saling memaafkan/mengampuni maka akhirnya dusunnya diberi nama Dusun Pengampon/Ngampon. Akhirul kalam Mbah Suprapto wafat disemayamkan di lokasi Sumur Gede sedang Mbah Sumo disemayamkan di bawah Pohon Doro dan sekarang disebut Kyai Doro dan Mbah Suprapto disebut Mbah Sumur Gede.

  1. Dusun Sidomansek Alkisah Kyai Singojoyo yang dikenal sebagai cikal bakal Dusun Sidomansek, wilayah di kawasan gumuk (gunung kecil) Semar. Beliau berasal dari Trowulan Mojokerto, di tahun 1915 M beliau menetap di kawasan tersebut, selain beliaupendekar sakti, beliau mempunyai tanda khusus di badannya terdapat kulit yang putih melingkar di pinggangnya (kendit) itu pilalah jika beliau marah, senjata berupa apapun tidak akan melukainya. Beliau sangat arif dan bijaksana senang membantu yang lemah. Singojoyo beristriNyai Gandik Sorok, dan mempunyai putra bernama Singonolo, pada zaman Belanda datang kompeni berkehendak akan membuat lapangan di gumuk semar, Kyai Songojoyo melarang terjadi pertikaian, Kyai Songojoyo dan putranya Kyai Singonolo bertahan untuk mempertahankan wilayahnya. Kompeni Belanda Akhirnya mundur ke arah Timur, Kyai Songojoyo berteriak-teriak Sidomansek, Sidomansek yang bahasa Indonesianya Sido = Jadi, Mansek= Mendesak/maju setelah Belanda kocar-kacir lari ke arah Timur, maka selanjutnya Kyai Singojoyo sekeluarga bertempat tinggal di Sidomansek. Sampai sekarang keturunan keluarga beliau ada yang masih mempunyai tanda kulit di pinggang (kendit). Kyai Singojoyosekeluarga wafat dan disemayamkan berdampingan dimakam umum Dusun Sidomansek.

  1. Dusun Tanjung Legenda Dusun Tanjung ini sulit untuk dicarikan pijakan bukti konkrit karena peninggalan-peninggalannyayang ada sudah tidak berbekas, namun cerita dari mulut ke mulut dikisahkan bahwa tokoh dedengkot yang berada di Dusun Tanjung adalah tokoh yang bernama Kyai Tu Madris, berasal dari keturunan Madura Kaca'an yang sekarang bernama Desa Lebanisuka (tetangga desa), karena suatu halbeliau sekeluarga menyingkir dari desanya menuju ke UTara dan membuat tampat tinggal di sebelah sumur yang sumbernyamelimpah, di tepi sumur tumbuh dengan subur Pohon Tanjung yang besar dan akhirnya berbunga Tanjung, selanjutnya dusun tersebut terkenal dengan sebutan Dusun Tanjung.

Nama dan periode jabatan Kepala Desa

 

No

Nama Kepala Desa

Tempat Tinggal

Masa Jabatan

1

P. Gandil

Dusun Ngampon

Th 1900-1921

2

P. Ngasteni

Dusun Ngampon

Th 1921-1928

3

P. Sumarjo

Dusun Ngampon

Th 1928-1930

4

P. Bintoro

Dusun Ngampon

Th 1930-1937

5

P. Kharlim

Dusun Ngampon

Th 1937-1944

6

P. Sumejo

Dusun Wates

Th 1944-1965

7

HM. Bari

Dusun Wates

Th 1965-1966

8

P. Kasiman

Dusun Ngampon

Th 1966-1974

9

P. Hery Sutopo

Dusun Wates

Th 1974-1983

10

HM. Syaifudin

Dusun Wates

Th1983-2008

11

Ahmad Yani

Dusun Tanjung

Th 2008-2014

12

Pj Hermanu Abas

Dusun Ngampon

Th 2014-2015

13

Ahmad Yani

Dusun Tanjung

Th 2015-2021


PENGHARGAAN DESA

Watestanjung telah meraih berbagai prestasi yang membanggakan, diantaranya adalah juara 1 kelompok dengan administrasi terbaik dalam spp award tahun 2017 dan kepala desa Pembina kelompok spp terbaik se kecamatan Wringinanom.


HASIL PEMBANGUNAN DESA

Untuk melihat detail foto hasil pembangunan Desa klik


TRANSPARANSI ANGGARAN

APBDES (Anggaran Pemerintah Desa) dan Dana Desa

Pendapatan Transfer

Rp. 1.421.451.000

Dana Desa

Rp. 858.646.000

APBN

Bagian dari hasil pajak dan retribusi

Rp. 130.460.000

APBD

daerah kabupaten

Alokasi Dana Desa

Rp. 432.345.000

APBD

 

-  Untuk melihat detail Laporan Kegiatan dan Pertanggung jawaban Keuangan APD


Sumber : Peserta KKN-BBM Universitas Airlangga Periode 58 Tahun 2018